Menalar Tuhan: Teisme, Deisme, dan Ateisme

 

Oleh: Mujahiddin Al Faruqul Adzim[2]

Pendahuluan

Manusia yang menyatakan diri sebagai makhluk paripurna di jagat raya ini akan terus berkembang daya nalar pikirnya. Tak terkecuali saat manusia memikirkan tentang eksistensi akan sesuatu yang dianggap transenden dan sangat sakral, yaitu Tuhan. Rasio merupakan pisau bedah yang digunakan manusia untuk menguliti pemahamannya sendiri akan keberadaan Tuhan tersebut. Pembicaraan mengenai Tuhan dan penciptaan selalu saja bergulir dan terus relevan untuk dibahas dan dikaji oleh setiap orang, bahkan yang bukan seorang filusuf sekalipun.

Menjadi menarik karena rasionalitas manusia yang sangat relatif dan berbeda-rdbatan yang tak berujung. Di zaman yang menjadikan manusia sebagai pusat segala-galanya menyebabkan manusia menjadi subjek yang tiada akhir. Segala sesuatu harus bernilai guna untuk manusia dan segala sesuatu pun ujung-pangkalnya adalah manusia itu sendiri. Dengan demikina, rasionalitas menjadi amat penting keberadaannya karena hal itulah yang membimbing manusia, yang mengklaim dirinya paripurna, untuk tetap bereksistensi di kehidupan dunia.

Tuhan pun pada akhirnya menjadi sebuah objek bagi manusia yang menasbihkan dirinya sebagai subjek tanpa batas di dunia ini. Kemudian, perdebatan mengenai ketuahanan dan penciptaan menjadi semakin runcing. Apakah manusia yang klaim dirinya sebagai subjek ternyata adalah objek yang dikendalikan Tuhan? Perlukah manusia membunuh Tuhan agar manusia bisa benar-benar paripurna berdiri sebagai makhluk yang berkuasa penuh mengendalikan dirinya sendiri? Lalu, jika Tuhan memang benar-benar bereksistensi, sampai sejauh mana ia berkuasa atas diri manusia? Dalam makalah ini tentu tak akan bisa menjawab pertanyaan itu semua. Penulis hanya mengemukakan pendapatnya menganai problem di atas sesuai dengan daya nalar penulis atas pengalaman membaca literatur yang amat terbatas jumlahnya.

Tesime: Kebertuhanan

Awalnya, manusia merenungkan mengenai alam, memikirkan asal muasal terjadinya sesuatu. Maka, pada zaman Yunani kuno, para filusuf awal mulai mengetengahkan padangannnya walaupun terkesan sebagai dugaan semata, seperti bumi yang seperti hamparan atau terjadinya segala sesuatu bermula dari air. Sampai pada akhirnya, manusia mengakui bahwa dirinya hanya bagian kecil dari kehidupan. Jika manusia adalah akibat dari sesuatu, ada hal yang menjadi penyebabnya dan penyebab itu adalah Tuhan yang menciptakan dan mengatur segala urusan.

Teisme adalah paham yang mepercayai adanya Tuhan (Allah). Jelas bahwa penganut teisme adalah orang yang beragama. Para penganut teisme menalar Tuhan bukan saja dengan akal budi mereka, melainkan juga dengan wakyu dari kitab suci yang mereka yakini. Konsekuensi dari paham ini adalah keimanan telebih dahulu yang harus dimiliki, baru kemudian membuktikan kebenaran-kebenaran akan eksistensi ketuhanan tersebut. Jadi, teisme sebagian besar memakai metodologi deduktif.

Dalam filsafat Barat, tercatat nama-nama seperti Santo Agustinus (345-430) dan Thomas Aquinas (1225-1274) sebagai filusf teologi. Teori mengenai sebab akibat menjadi dasar pijakan teisme ini yang mengungkapkan bahw Tuhan menjadi penyebab segala-galanya. Ajaran agama yang memberikan kebenaran lewat wahyu harus juga dipahami menggunakan akal. Pengungkapan wahyu merupakan proses yang terus menerus terjadi hingga pada akhirnya wahyu-wahyu tersebut dapat dibuktikan kebenarannya. Wahyu pun melengkapi rasionalitas manusia yang terbatas untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh rasio manusia atau yang bersifat metafisika. Jadi, jelaslah bahwa pijakan utama kaum teisme adalah wahyu yang mereka yakini dan disejalankan dengan akl budi atau rasionalitas yang mereka miliki.

Meskipun dalam perkembangannya, kitisisme para filusuf akan membawa pada pemahaman teistik yang berbeda-beda. Bahkan, pada akhirnya bisa mendekonstruksi teisme tersebut hingga akhirnya muncul deisme dan ateisme.

Deisme: Peralihan

Paham deisme muncul dan populer pada abad pertengahan setelah masa kegelapan dan di masa awal abad pencerahan (enlightment). Paham ini mempercayai bahwa Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan kuasanya. Namun, Tuhan tidak ikut campur dalam kehidupan manusia karena Tuhan hanya sebatas menciptakan kehidupan, sedangkan kehidupan manusia itu sendiri mutlak merupakan kehendak manusia yang berdiri sendiri. Banyak orang yang menganalogikan paham ini dengan penciptaan sebuah arloji. Kehidupan diibaratkan sebuah arloji yang dibuat oleh Tuhan. Namun, arloji itu dapat berjalan sendiri dengan mekanismenya tanpa adanya intervensi dari pembuatnya.

Jika dilihat dari perkembangannya, paham deisme ini bisa jadi muncul karena trauma akan ajaran agama yang begitu mengekang pada zaman kegelapan Eropa. Deisme pun diungkapkan oleh banyak pemikir sebagai awal dan cikal bakal timbulnya ateisme. Jadi, deisme merupakan bentuk pendekonstruksian Tuhan dalam hal mengatur kehidupan manusia. Pada abad pertengahan tersebut, gereja atau kerajaan teokrasi yang menggunakan dalih agama untuk bertindak sewenang-wenang dan tiran terhadap rakyatnya. Dengan begitu, timbullah paham deisme yang merupakan pengingkaran terhadap teisme, namun belum mencapai titik ekstremnya: ateisme. Sebenarnya adalah kelindanan antara paham sekularisme dengan deisme ini. Kebanyakan orang-orang ini sudah terdegradasi imannya karena ketidakpercayaan akan Tuhan yang mengatur, namun masih mempercayai akan eksistensi ketuhanan tersebut. Dalam sekularisme, ketuhanan tidak boleh ditampakkan di ruang publik dan dipisahkan dari politik yang berarti tidak mengatur urusan manusia. Bukankah gejala tersebut mirip dengan desime?

Ateisme: Pemberontakan

Secara etimologis, kata “ateisme” berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu a (tanpa) dan theos (tuhan). Jadi, atheos berarti tanpa tuhan. Orang Yunani memakai kata atheos  dalam tiga arti: (1) tidak bertuhan atau tanpa tuhan, (2) tanpa pertolongan supranatural, (3) tidak mempercayai setiap tuhan atau konsepsi Yunani tentang tuhan. Banyak yang menyepakati bahwa ateisme merupakan antitesis dari teisme. Hal tersebut dibuktikan karena ateisme tidak akan ada jika tidak ada teisme. Ketidakbertuhanan seseorang merupakan bentuk dari sikapnya yang mungkin saja trauma dengan ajaran agama dan ketuhanan yang pernah ia dapatkan sebelumnya.

Berikut adalah definisi Ateisme menurut L. Bagus:

  1. Keyakinan bahwa Tuha, Dewa-Dewi tidak ada.
  2. Pandangan yang menolak adanya adikodrati/hidup setelah mati
  3. Kesangsian akan eksistensi yang adikodrati yang diandaikan mempengaruhi alam semesta.
  4. Tidak adanya keyakinan akan Tuhan yang khusus. (orang-orang Yunani menyebutkan orang-orang kristen ateis karena tidak percaya kepada dewa/dewi mereka. Dan orang-orang Kristen menyebut orang-orang Yunani ateis karena tidak percaya kepada Tuhan mereka.
  5. Penolakan semua agama
  6. Sehubungan dengan ini, panteisme dalam pelbagai bentuknya menolak Tuhan yang transenden dan personal, tetapi mengenal dan mengakui sesuatu yang mutlak (hukum moral, keindahan, dsb.) Sang mutlak diyakini tidak sama dengan dunia pengalaman. Panteisme masih memiliki benih iman kepada Tuhan. Politeisme dan Deisme tidak termasuk dan ateisme.

Ateisme merupakan konsekuensi logis dari beberapa paham-paham lainnya, seperti materialisme, eksistensialisme, dan nihilisme. Materialisme yang sangat mementingkan unsur inderawi dan kebenaran adalah sesuatu yang bisa dibuktikan dengan indera menyangkal akan sesuatu yang metafisik seperti Tuhan. Karena Tuhan itu tidak bisa dijabarkan dan dijelaskan secara sebab akibat, paham materialisme pun pada akhirnya meniadakan unsur ketuhanan dan memenpatkan manusia sebagai poros utama segala kehidupan yang ada.

Pun halnya dengan eksistensialisme yang menyangkan akan eksistensi Tuhan karena paham ini beranggapan bahwa manusia merupakan makhluk paripurna yang bisa menentuka dirinya sendiri tanpa diatur oleh kehendak atau aturan Tuhan, dalam hal ini adalah wahyu dalam kitab suci. Nihilisme pun beranggapan demikian. Menurut Nietzshe, nihilisme merupakan konsekuensi dari kematian Tuhan yang ia deklarasikan melalui Zarathustra-nya. Nihilisme yang begitu percaya akan ketidakberadaan dan kekosongan menafsirkan bahwa jika manusia masih mempercayai Tuhan, manusia akan kehilangan kebebasan dirinya yang terbelenggu oleh aturan agama yang tertuang dalam wayu di kitab suci.

Penutup

Jika kita sebagai manusia beriman yang bereksistensi dan mempercayai akan keberadaan Tuhan, sudah selayaknya kita mulai mengimbangi segala hal yang kita percayai akan Tuhan melalui kitab suci dengan rasio yang kita miliki. Namun, fungsi akal bukanlah untuk melemahkan wahyu yang berimplikasi pada pelemahan iman, tetapi untuk menguatkan iman dengan pembuktian wahyu melalui rasionalitas terbatas yang dimiliki oleh manusia. Pelukisan dan penafsiran akan Tuhan pun mempunyai implikasi yang bertitik ekstrem: (makin) beriman atau (menjadi) tidak beriman.

Dengan demikian, sebagai manusia yang tak pernah selesai dan paradoksal menjadi arif dan bijak menjadi sebuah keharusan dalam membaca masalah ini. Hal patut dipertanyakan adalah: sudah seberapa dalam kiranya ilmu agama dan ketuhanan yang kita pelajari dan kita pahami? Atau, siapkah kita menjadi seorang ateis yang begitu percaya diri akan eksistensi dirinya sendiri, sudah sejauh mana kita dapat menguasai diri kita sendiri? Jangan-jangan, sikap kita menjauhi Tuhan dan ajaran-Nya karena ketidaktahuan dan lemahnya akal kita dan begitu besarnya kesombongan ego seorang manusia.

Daftar Bacaan:

Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia

Hendrobaskoro, Bhayu Mahendra. Horizon Baru: Teisme Nietzshe. “Skripsi”: Universitas Indoneisa, 2003

Roswontoro, Alim. Eksistensialisme Teistik Muhammad Iqbal. “Makalah”: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sulitiadi, Ricky. Gambaran Makna Hidup Para Penganut Ateis.”Makalah”: Universitas Gunadarma.

[1] Makalah ini dibuat sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Filsafat Agama pada Senin, 7 April 2014

[2] Mahasiswa Prodi Indonesia dengan NPM: 1006699442

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s